Go International : Akreditasi B

JOGLOSEMAR, Senin, 06/08/2012 06:00 WIB

Kaprodi HI UNS
Kaprodi HI UNS

SOLO—Ketua Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI), Andrik Purwasito, mengatakan, kehadiran HI di UNS sebagai salah satu pendorong kuat Universitas Sebelas Maret (UNS) menuju World Class University. Menurutnya, World Class University dapat diraih dengan pencapaian kualitas seluruh komponen pendidikan Perguruan Tinggi (PT). Selain itu, perlu jaringan internasional yang luas dan kuat, pada sisi ini HI akan berupaya berkontribusi. “Karena HI fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan hubungan luar negeri, yang tentunya ikut membawa UNS untuk menjalin relasi,” ungkap Andrik yang baru saja dilantik belum lama ini, oleh Rektor UNS, Prof Ravik Karsidi.

Meskipun demikian menurutnya, HI hanyalah salah satu dari  peran itu karena jurusan dan fakultas lain di UNS ikut serta menuju World Class University. Setidaknya HI telah memberlakukan “Speaking English Every Day,” baik di dalam komunikasi sehari-hari maupun di dalam kelas. Setidaknya untuk perkuliahan menggunakan dwi bahasa. HI dengan cirikhasnya Penguatan pada Kearifan Lokal dan Multitrack diplomacy diharapkan memang semakin menguatkan komitmen UNS menuju World Class University.

“Kita juga bagian dari pendukung UNS menuju internasional,” ujar Andrik. Sejak ia diresmikan menjadi Kaprodi HI, pihaknya bersiap untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran atau kuliah HI. Beberapa kebutuhan pembelajaran, seperti tenaga pengajar, kurikulum dan fasilitas telah disiapkan. Sedangkan mahasiswanya sudah ada penerimaan dari Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi (UMB- PT) dengan kuota mahasiswa sekitar 50. Sementara ditambahkan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS, Prof Drs Pawito PhD, dengan kehadiran HI UNS dan juga segenap komponen di dalamnya, termasuk Kaprodi yang baru saja dilantik diharapkan bisa memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan kualitas dan jaringan UNS.Anisaul Karimah

8 thoughts on “Go International : Akreditasi B”

    1. Berdasarkan penerimaan tahun lalu, peluang masuknya adalah 1:25, jadi untuk bisa bergabung bersama kami, minimal anda harus bisa menyisihkan 25 kontestan lainnya. Dilihat dari keketatan masuk jurusan, meskipun HI UNS jurusan baru namun ternyata animo calon mahasiswa cukup tinggi bila dibanding jurusan yang lain di UNS.

      1. o ya, pandai memang tidak menjamin bisa lolos masuk PTN, karena banyak rangking 1 di sekolah yang gagal masuk PTN. Rahasia Illahi, tetapi itulah yang namanya keberuntungan. Saya kira selain belajar juga banyak berdoa dan berusaha, semoga Allah memberi jalan kepadamu yang terbaik.

      2. Selamat pagi, Bapak
        Nama saya Kanya Preyas Permadi, salah satu siswi SMA N 3 Kota Blitar (Jawa Timur). Saat ini saya duduk di kelas XII program studi IPA dan berencana akan melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta. Bulan depan saya akan mengisi PDSS dan saya adalah salah satu pendaftar di jalur Bidik Misi. Namun ada beberapa hal yang mengganjal di pikiran saya sebelum saya mengisi PDSS.
        Sudah sejak lama saya merencanakan ingin kuliah di jurusan HI (Hubungan Internasional). Namun mengingat bahwa jurusan tersebut berada di dalam program studi IPS saya sempat berkecil hati, bukan karena saya takut bersaing dengan pendaftar lainnya, melainkan saya takut jika Universitas Negeri Sebelas Maret tidak menerima mahasiswa “lintas jurusan” berdasarkan informasi dari internet yang saya dapatkan. Akhirnya saya berhasil menghubungi salah satu mahasiswa UNS yang berasal dari Blitar (kakak kelas saya), dengannya saya bertanya dan meminta konfirmasi kepastian apakah UNS menerima mahasiswa lintas jurusan. Oleh kakak kelas saya tersebut langsung ditanyakan ke bagian penerimaan mahasiswa baru dan mengatakan bahwa UNS menerima mahasiswa baru lintas jurusan dari IPA ke IPS, namun menolak mahasiswa baru lintas jurusan dari IPS ke IPA. Saya sangat bersyukur karena satu masalah saya telah teratasi.
        Bulan depan saya sudah harus mengisi PDSS namun saya memiliki masalah baru dengan jurusan ini. Saya banyak mencari informasi di internet mengenai jurusan HI, salah satunya saya membaca sebuah blog yang di dalamnya mengatakan “menjadi mahasiswa HI ngga harus pinter bahasa Inggris kok, yang penting kita mau belajar tekun dan berusaha”, lalu pada blog lain tertuliskan “ngga perlu terlalu rajin jadi mahasiswa HI, temen gue yang dulunya siswa teladan di SMA dan ngga pernah kenal nongkrong, pas ujian dapet nilai C, sedangkan temen gue satunya lagi yang kerjaannya cuma cengar-cengir ngga pernah belajar, malah dapet nilai A, masalah nilai itu tergantung dosennya, ngga harus pinter kok”. Kedua tulisan tersebut sejujurnya membuat saya bingung tentang bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa HI sehingga sekarang ini saya menemukan 2 permasalahan ;
        Permasalahan pertama. Pada komentar sebelumnya Bapak mengatakan bahwa kami bisa masuk HI asalkan kita “pandai”. Sebelumnya, saya ingin menekankan satu hal kepada Bapak bahwa sejujurnya saya bukanlah siswi yang lihai dalam bidang bahasa Inggris. Namun semasa saya sekolah, saya dipercaya oleh guru-guru saya untuk mengikuti berbagai lomba pidato bahasa Inggris yang didasarkan pada 2 hal; saya sering mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia dan siaran radio serta sering mendapatkan juara; saya termasuk siswi yang memiliki percaya diri saat tampil di depan umun, jadi demam panggung sama sekali bukan masalah bagi saya. Sejak saat itu saya sering mengikuti lomba pidato bahasa Inggris dan mendapatkan beberapa kejuaraan. Hingga sekolah saya menjadi perwakilan kota Blitar untuk mengikuti lomba Debat Bahasa Inggris yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Lomba debat ini terdiri dari 3 orang anak sebagai 1 tim dan saya merupakan salah satunya. Sayangnya tim saya hanya mampu hingga babak octofinal karena tim saya bisa dibilang masih “beginner” atau pemula. Namun hal tersebut menjadi kebanggan tersendiri bagi saya lantaran guru saya mengatakan bahawa seorang “beginner” biasanya hanya mampu berdiri pada babak penyisihan yang mana dalam babak penyisihan saja sudah diadakan 3 pertandingan untuk meraih octofinal. Sekali saya tekankan, saya tidak mahir dalam bahasa Inggris. Di dalam pertandingan tersebut pun grammar saya tidak karu-karuan, hanya saja pronounciation saya yang sangat membantu. Bahkan sejujurnya saya bergabung dalam tim debat karena saya menggantikan siswa lain yang bisa dibilang kurang bagus pronounciation-nya, namun saya akui bahwa sebenarnya siswa tersebut lebih mahir dalam bahasa Inggris ketimbang saya.
        Lalu melihat komentar Bapak di atas membuat saya berkecil hati lagi. Pertanyaan saya, jika memang saya tidak mahir dalam bahasa Inggris sedangkan pembelajaran pada jurusan ini lebih banyak menggunkan bahasa Inggris, apakah tidak ada peluang bagi saya untuk menjadi salah satu mahasiswa jurusan HI? Dan jika saya lolos pada pilihan saya ini, apakah saya bisa mengikuti pembelajaran dengan baik tanpa ada misunderstand ?
        Permasalahan kedua. Sudah sejak lama saya menginginkan kuliah di jurusan HI lantaran saya ingin menjadi seorang diplomat, Bapak. Selain keinginan dalam diri saya, hal ini juga karena harapan dari nenek saya yang menginginkan saya sukses sebagai seorang diplomat. Pertanyaan saya, apakah belajar di jurusan HI sudah menjamin lulusannnya berprofesi sebagai seorang diplomat? Jika tidak, bagaimana cara kita memperoleh peluang menjadi seorang diplomat jika yang dibutuhkan hanya beberapa orang dan setiap tahunnya banyak sekali lulusan HI dari berbagai Universitas? Dalam hal ini, saya mempertanyakan hal ini karena saya hanya ingin mempersiapkan semua dari awal sebagai fondasi agar jika saya lolos di jurusan ini (amin), saya bisa melakukan yang terbaik untuk mendapatkan peluang tersebut.
        Saya memohon penjelasan dari Bapak sebelum saya mengisi PDSS, dan saya berencana hanya mengisi satu PTN yaitu Universitas Negeri Sebelas Maret. Dan kalaupun saya tidak lolos snmptn, saya akan mengikuti sbmptn di universitas dan jurusan yang sama, UNS-HI.
        Sekian dari saya, Bapak.
        Terimakasih…

  1. Selamat pagi, Bapak
    Nama saya Kanya Preyas Permadi, salah satu siswi SMA N 3 Kota Blitar (Jawa Timur). Saat ini saya duduk di kelas XII program studi IPA dan berencana akan melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta. Bulan depan saya akan mengisi PDSS dan saya adalah salah satu pendaftar di jalur Bidik Misi. Namun ada beberapa hal yang mengganjal di pikiran saya sebelum saya mengisi PDSS.
    Sudah sejak lama saya merencanakan ingin kuliah di jurusan HI (Hubungan Internasional). Namun mengingat bahwa jurusan tersebut berada di dalam program studi IPS saya sempat berkecil hati, bukan karena saya takut bersaing dengan pendaftar lainnya, melainkan saya takut jika Universitas Negeri Sebelas Maret tidak menerima mahasiswa “lintas jurusan” berdasarkan informasi dari internet yang saya dapatkan. Akhirnya saya berhasil menghubungi salah satu mahasiswa UNS yang berasal dari Blitar (kakak kelas saya), dengannya saya bertanya dan meminta konfirmasi kepastian apakah UNS menerima mahasiswa lintas jurusan. Oleh kakak kelas saya tersebut langsung ditanyakan ke bagian penerimaan mahasiswa baru dan mengatakan bahwa UNS menerima mahasiswa baru lintas jurusan dari IPA ke IPS, namun menolak mahasiswa baru lintas jurusan dari IPS ke IPA. Saya sangat bersyukur karena satu masalah saya telah teratasi.
    Bulan depan saya sudah harus mengisi PDSS namun saya memiliki masalah baru dengan jurusan ini. Saya banyak mencari informasi di internet mengenai jurusan HI, salah satunya saya membaca sebuah blog yang di dalamnya mengatakan “menjadi mahasiswa HI ngga harus pinter bahasa Inggris kok, yang penting kita mau belajar tekun dan berusaha”, lalu pada blog lain tertuliskan “ngga perlu terlalu rajin jadi mahasiswa HI, temen gue yang dulunya siswa teladan di SMA dan ngga pernah kenal nongkrong, pas ujian dapet nilai C, sedangkan temen gue satunya lagi yang kerjaannya cuma cengar-cengir ngga pernah belajar, malah dapet nilai A, masalah nilai itu tergantung dosennya, ngga harus pinter kok”. Kedua tulisan tersebut sejujurnya membuat saya bingung tentang bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa HI sehingga sekarang ini saya menemukan 2 permasalahan ;
    Permasalahan pertama. Pada komentar sebelumnya Bapak mengatakan bahwa kami bisa masuk HI asalkan kita “pandai”. Sebelumnya, saya ingin menekankan satu hal kepada Bapak bahwa sejujurnya saya bukanlah siswi yang lihai dalam bidang bahasa Inggris. Namun semasa saya sekolah, saya dipercaya oleh guru-guru saya untuk mengikuti berbagai lomba pidato bahasa Inggris yang didasarkan pada 2 hal; saya sering mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia dan siaran radio serta sering mendapatkan juara; saya termasuk siswi yang memiliki percaya diri saat tampil di depan umun, jadi demam panggung sama sekali bukan masalah bagi saya. Sejak saat itu saya sering mengikuti lomba pidato bahasa Inggris dan mendapatkan beberapa kejuaraan. Hingga sekolah saya menjadi perwakilan kota Blitar untuk mengikuti lomba Debat Bahasa Inggris yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Lomba debat ini terdiri dari 3 orang anak sebagai 1 tim dan saya merupakan salah satunya. Sayangnya tim saya hanya mampu hingga babak octofinal karena tim saya bisa dibilang masih “beginner” atau pemula. Namun hal tersebut menjadi kebanggan tersendiri bagi saya lantaran guru saya mengatakan bahawa seorang “beginner” biasanya hanya mampu berdiri pada babak penyisihan yang mana dalam babak penyisihan saja sudah diadakan 3 pertandingan untuk meraih octofinal. Sekali saya tekankan, saya tidak mahir dalam bahasa Inggris. Di dalam pertandingan tersebut pun grammar saya tidak karu-karuan, hanya saja pronounciation saya yang sangat membantu. Bahkan sejujurnya saya bergabung dalam tim debat karena saya menggantikan siswa lain yang bisa dibilang kurang bagus pronounciation-nya, namun saya akui bahwa sebenarnya siswa tersebut lebih mahir dalam bahasa Inggris ketimbang saya.
    Lalu melihat komentar Bapak di atas membuat saya berkecil hati lagi. Pertanyaan saya, jika memang saya tidak mahir dalam bahasa Inggris sedangkan pembelajaran pada jurusan ini lebih banyak menggunkan bahasa Inggris, apakah tidak ada peluang bagi saya untuk menjadi salah satu mahasiswa jurusan HI? Dan jika saya lolos pada pilihan saya ini, apakah saya bisa mengikuti pembelajaran dengan baik tanpa ada misunderstand ?
    Permasalahan kedua. Sudah sejak lama saya menginginkan kuliah di jurusan HI lantaran saya ingin menjadi seorang diplomat, Bapak. Selain keinginan dalam diri saya, hal ini juga karena harapan dari nenek saya yang menginginkan saya sukses sebagai seorang diplomat. Pertanyaan saya, apakah belajar di jurusan HI sudah menjamin lulusannnya berprofesi sebagai seorang diplomat? Jika tidak, bagaimana cara kita memperoleh peluang menjadi seorang diplomat jika yang dibutuhkan hanya beberapa orang dan setiap tahunnya banyak sekali lulusan HI dari berbagai Universitas? Dalam hal ini, saya mempertanyakan hal ini karena saya hanya ingin mempersiapkan semua dari awal sebagai fondasi agar jika saya lolos di jurusan ini (amin), saya bisa melakukan yang terbaik untuk mendapatkan peluang tersebut.
    Saya memohon penjelasan dari Bapak sebelum saya mengisi PDSS, dan saya berencana hanya mengisi satu PTN yaitu Universitas Negeri Sebelas Maret. Dan kalaupun saya tidak lolos snmptn, saya akan mengikuti sbmptn di universitas dan jurusan yang sama, UNS-HI.
    Sekian dari saya, Bapak.
    Terimakasih…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

%d bloggers like this: