Profile: Dari Loper Koran menjadi Profesor

JOGLOSEMAR, Minggu, 26/08/2012 06:00 WIB –

Penulis : Denyawan Tommy Chandra Wijaya, Wartawan Joglosemar

Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA ketika mengunjungi University of Ottawa di Canada

Nama lengkapnya, Prof Dr H Andrik Purwasito, DEA, dan biasa disebut Kang Andrik. Sekilas memang terkesan tak ada yang istimewa dengan pria kelahiran Trenggalek, 55 tahun, silam ini. Namun jangan salah, bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, dirinya justru lebih dikenal sebagai seorang budayawan senior. Tak berlebihan, karena meski seorang guru besar, namun Andrik lebih suka tampil low profil dan kerap blusukan di berbagai acara budaya.“Saya kalau pas tidak mengajar, pasti suka melukis, baca puisi atau kumpul-kumpul dengan para rekan seniman dan budayawan,” ujarnya ketika ditemui di padhepokan seni miliknya yang diberi nama Ndalem Poerwahadiningratan, Sapen, Sukoharjo, beberapa waktu lalu.

Masa kecil Kang Andrik, yang gemar berpenampilan hitam-hitam ala “pesilat” ini tak jauh beda dengan anak pada umumnya.Hanya saja, dirinya sudah menjadi semacam “penasihat” bagi kawan-kawan bermainnya. Pasalnya, selain dikenal paling jago bela diri, Andrik juga tak pernah membeda-bedakan pergaulan. “Ayah saya itu dulu tentara. Jadi kalau mau sok jagoan itu soal gampang. Tapi di depan kawan-kawan, justru saya tak pernah mengaku jika anak tentara, cukup ngaku anak petani saja,” kata sulung dari delapan bersaudara pasangan Daoed Soekardji dengan Toemiatoen ini.Anehnya, Andrik mengaku sudah bercita-cita menjadi seorang profesor sejak kecil. Alasannya sederhana, dirinya lebih suka mengikuti jejak ibunya yang berprofesi sebagai guru, daripada ayahnya yang seorang tentara. Karena baginya, bisa berbagi ilmu kepada sesama, jauh lebih penting dari segalanya. Selain itu, Kang Andrik juga tidak begitu tertarik hidup secara nomaden, dari satu tempat ke tempat lain karena harus selalu berpindah tempat tugas seperti ayahnya. “Ibu saya kan hanya guru SD. Nah waktu kecil saya lantas berpikir ingin menjadi maha gurunya guru, dan itu adalah profesor,” kenangnya seraya tertawa. Selepas SMA di Kediri pada tahun 1975, Andrik memutuskan hijrah ke Yogyakarta guna melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Hubungan Internasional (HI).

Namun di sisi lain, jiwa seninya terus bergolak. Akhirnya di luar sepengetahuan keluarganya, di samping berkuliah di HI UGM, dirinya menjajal menjadi mahasiswa seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Tak heran, jika kini di rumahnya terdapat puluhan lukisan hasil karyanya. “Tema lukisan saya biasanya kasih sayang dan kritik sosial,” ucapnya. Untuk membiayai dua kuliahnya tersebut, Andrik rela menjajal beragam profesi sambilan. Seperti penyiar radio, wartawan freelance, bahkan loper koran. Alasannya sederhana, karena ketika menjadi loper koran dirinya bisa membaca puluhan jenis koran dan majalah secara gratis. “Saat itu kan belum ada media online, jadi bisa baca koran dan majalah gratis itu sudah keuntungan tersendiri. Karena kita bisa mendapat beragam informasi secara gratis,” ungkapnya. Sebelum menjadi seorang dosen, Kang Andrik juga pernah bekerja sebagai supervisor BKKBN di Bantul. Namun di tahun 1984, dengan alasan tak sesuai dengan bidang perkuliahannya, dia beralih profesi dan menjajal peruntungan sebagai dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNS Solo.

“Alhamdulillah diterima dan masih mengajar hingga sekarang,” ungkap lulusan S3 dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris tahun 1992 ini.Tak puas mengajar di jurusan komunikasi, selepas bergelar doktor, Andrik tergerak ingin mendirikan Progdi HI di UNS. Karena dirinya memandang, jurusan HI adalah jurusan bergengsi, dan mempunyai prospek lapangan pekerjaan sangat luas bagi lulusannya. Namun karena kendala birokrasi, dan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) HI pada saat itu di UNS, setelah hampir 20 tahun berjuang, impian tersebut baru bisa terwujud di awal tahun 2012 ini.Untuk itulah, kini ketika jurusan HI sudah tercatat sebagai Progdi baru di FISIP UNS, Andrik didaulat menjadi Ketua Progdi pada awal Agustus lalu. “Capek dan menyita tenaga, pikiran serta biaya. Tapi saya tidak patah semangat dan tetap yakin, jika jurusan HI bisa berdiri di UNS. Dan atas bantuan segenap pimpinan UNS dan rekan-rekan akademisi, mimpi itu sekarang benar-benar terwujud,” bebernya.“Ini saya memasuki perjuangan babak baru. Karena ke depan, saya ingin Progdi HI bisa mengharumkan nama UNS, dan kualitas lulusannya diperhitungkan di skala internasional,” imbuhnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

%d bloggers like this: