oleh : Andrik Purwasito

Semiologi Prakmatik

Manusia memberi makna yang khusus melalui tetenger (tanda), mentransformasi gagasan dan makna ke dalam tanda-tanda agar dapat dipahami oleh orang lain. Semiologi atau semiotika sebagai analisis tanda berisi hubungan antara pola persepsi manusia terhadap makna tanda-tanda dengan realitas yang dicapai. Semiologi adalah tafsir terhadap tanda-tanda yang diproduksi oleh manusia berguna sebagai media interaksi dan komunikasi.

Tanda-tanda merupakan anasir utama bahasa yang digunakan oleh manusia untuk berhubungan dengan orang lain. Agar masing-masing pihak dapat mempertukarkan gagasan maka tanda-tanda menjadi kunci utama terjadinya komunikasi. Dengan bahasa orang mampu menghubungan maksud atau tujuan kepada pihak lain. Oleh karena seluruh aktivitas manusia menggunakan bahasa, maka bahasa juga berfungsi sebagai sarana membangun perilaku dan norma sosial. Maka secara kontekstual, tanda-tanda dalam bahasa menurut Charles Sanders Peirce bersifat konvensional (common sense). Bahkan kriteria kebenaran dalam masyarakat sering kali diukur menurut standar konsesus sosial. Tanda-tanda baik bersifat verbal dan non-verbal sebagai sarana komunikasi disebut sebagai tanda-tanda prakmatik. Oleh Roland Barthes analisis tanda-tanda yang dipertukarkan sebagai sarana komunikasi  disebut sebagai semiologi pragmatik.

Proses Semiosis

Proses semiosis adalah proses pemaknaan terhadap tanda-tanda, pertama bersifat verbal yaitu tanda yang diucapkan atau ditulis seperti kata, kalimat, tulisan, pargaraf, pidato, diskursus. Kedua tanda yang bersifat non-verbal, seperti gambar, suara, bahasa tubuh, bahasa alam, Pierce menyebut tanda verbal dan non-verbal berupa simbol, ikon dan kode-kode. Tanda-tanda yang diamati pada umumnya adalah tanda-tanda yang digunakan oleh sumber (komunikator) sebagai sarana untuk mempengaruhi orang yang lain dengan tujuan orang yang dipengaruhi tersebut menerima atau menolak pengaruhnya tersebut.

Oleh sebab itu, tanda-tanda dalam komunikasi merupakan produk gagasan bersama dan oleh sebab itu tanda mempunyai dimensi sosial. Tanpa dimensi sosial tanda-tanda yang digunakan sebagai sarana atau media komunikasi sosial tersebut tidak mungkin dapat berlansung. Artinya bahwa seluruh tanda komunikasi merupakan hasil kesepakatan bersama dalam proses interaksi sosial yang berlansung dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu tanda yang menjadi konvensi tersebut bersifat denotatif.

Namun, seperti kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari, dalam banyak hal tanda-tanda tidak seluruhnya merupakan produk gagasan bersama. Tanda-tanda hadir di masyarakat hanya dipahami oleh sedikit orang, bahkan tanda-tanda itu merupakan produk orang per-orang. Sehingga tanda-tanda menjadi misterius dan rahasia. Tanda-tanda itu mungkin hanya dibangun oleh komunitas tertentu. Misalnya, komunitas perkumpulan spiritual Kejawen. Akibatnya, tanda-tanda itu hanya digunakan oleh komunitas yang khusus tersebut. Orang lain di luar komunitas tersebut tidak dapat mengerti dan memahaminya.

Namun simbol, ikon, kode tidak semuanya bersifat denotative. Tidak semua tanda sudah menjadi konvensi atau konsesus sosial. Banyak tanda-tanda yang yang bertebaran di masyarakat, baik yang berada di mass-media, dan produk budaya lainnya, yang pada umumnya sebagai media komunikasi sosial-budaya, tanda-tanda itu berdimensi konotatif. Suatu tanda menunjuk tanda lain yang merupakan maksud sebenarnya. “Jam berapa dik?” Tanya seorang pemuda penumpang kepada seorang gadis di sebelahnya. Maksud sebenarnya bukanlah menanyakan tentang

Artinya tanda-tanda yang disampaikan kepada publik tidak selalu dapat dimengerti dan dipahami maksudnya secara tepat dan benar. Bahkan Itulah tugas para ahli ilmu pengetahuan  agar-agar tanda-tanda bahasa yang misterius dan  sulit diketahui secara lurus dapat dianalisis secara akal sehat sehingga kita sampai pada maksud dan makna yang tepat dan benar.

Proses analisis untuk membedah tanda-tanda konotatif sehingga makna atas tanda dimengerti dan dipahami secara jelas itulah yang kami sebut sebagai proses semiosis. Untuk membedah makna tanda, secara umum dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

 

TANDA

Persepsi[1]              Konsepsi

KONSEP[2]                         OBYEK

 (pikiran yang sudah ada)         (rujukan, realitas, konvensi)[3]

         Pengalaman[4]

 Pembacaan Diagram

Peneliti A sebagai interpretant melihat Tanda, misalnya tulisan GAJAH. Tulisan tersebut mudah dimengerti karena di dalam dirinya sudah pengalaman bahwa tulisan GAJAH tersebut menunjuk pada binatang berbelai panjang. Ia hanya mengerti tulisan gajah. Tetapi ia tidak apa yang sebenarnya terjadi pada GAJAH tersebut. Maka ia melihat konteksnya, dengan cara melihat keseluruhan kalimatnya. GAJAH MATI KARENA DITEMBAK OLEH PEMBURU. Maka gajah tersebut dimengerti dalam kondisi mati.

Ia belum puas dengan hanya sekedar mengerti terhadap kematian gajah. Ia ingin memahami kematian gajah lebih dalam lagi. Maka ia berusaha membuka pintu tabir yang lain agar tahu lebih mendalam, melalui konvensi yang ada dalam masyarakat, dengan pertanyaan: “mengapa gajah tersebut ditembak pemburu?”

Namun ia tidak menemukan tanda lain yang terdapat pada kalimat tersebut. Maka ia menemukan berdasarkan commen-sense di masyarakat bahwa gajah yang ditembak mati tidak diambil dagingnya, melainkan diambil gadingnya untuk dijual.

Ternyata peneliti tersebut juga belum puas dengan jawaban konvensional tersebut. Maka ia mencoba membuka pintu tabir yang lain, bernama intersubyektivitas. Maka ia mencari pendapat para ahli lingkungan, yang hasilnya ternyata mengejutkan, antara lain bahwa pemburu telah merusak lingkungan dan dianggap sebagai perbuatan melanggar hukum.

Peneliti tersebut ternyata juga belum merasa puas. Maka ia mencoba membuka pintu intertextual, yakni sepadanan peristiwa yang sama tentang perburuan gajah. Akhirnya, melalui proses intertextual, ia menemukan perburuan gajah di Afrika sebagai kejahatan tingkat internasional. Gading gajah tidak lagi  menjadi isu local, namun telah menjadi isu global. Gading gajah telah menjadi komoditas ekslusif yang diminati oleh banyak. Penjualan gading gajah telah menjadi bagian dari kejahatan dan mafia internasional.

Demikianlah salah satu contoh bagaimana proses semiosis terus berusaha mencari makna yang paling dasar dan terus dikembangkan sesuai dengan kemampuan seorang peneliti melalui pintu-pintu tabir, agar tanda dapat dimaknai semakin dalam dan detail.

Dari apa yang diuraikan di atas maka dapat diketahui, seperti dilukiskan dalam gambar,  bahwa relasi tanda dan konsep mempunyai hubungan yang erat oleh karena manusia mempunyai persepsi atas obyek pada realitas. Maka relasi konsep dan obyek terjadi hubungan rasional oleh sebab adanya rekaman pengalaman seseorang yang terekam pada diri orang tersebut.

Oleh sebab itulah, tanda dan obyek makna yang paling dasar adalah relasi konvensional. Artinya, tanda-tanda dalam kebudayaan manusia yang digunakan sebagai media dan sarana berkomunikasi pada umumnya merupakan hasil konsesus dan kesepakatan bersama.

Dengan uraian di atas maka jelas bahwa, penafsiran pertama terhadap tanda-tanda selalu diawali dari konvensi yang sudah menjadi common-sense baru kemudian diuji melalui konteks, interteks, intersubyektivitasdimana tanda itu dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Mengurai Tanda

Di depan sudah diuraikan dengan contoh bahwa semiotika prakmatik adalah analisis  untuk mengurai tanda yang bersifat konotatif, agar makna yang tersembunyi dalam tanda dapat diungkapkan secara mendalam dan detail. Teknik penguraiannya menggunakan beberapa pintu tafsir yang akan dijelaskan dalam uraian berikut. Hal tersebut berlaku untuk mengkaji tanda-tanda dalam proses politik, sosial, ekonomi dan budaya, berupa diskursus, lukisan, pidato, televisi, naskah undang-undang dan peraturan, maupun untuk menganalisis tanda-tanda dalam film dan dalam proses sosial, politik, ekonomi dan sosial budaya.

Di bawah ini akan dijelaskan mengenai teknik analisis terhadap tanda-tanda konotatif dalam proses kebudayaan sebagai berikut :

Tujuh formula di bawah ini dapat digunakan seluruhnya atau bergantung pada makna yang ingin dicapai, sehingga formula tersebut dapat digunakan sebagian tergantung dari temuan makna yang ingin diperolehnya.

 

Tujuh Formula Kunci Tafsir

Tanda konotatif membutuhkan beberapa langkah penafsiran. Ada 7 formula (kunci tafsir) yang dapat dijadikan untuk memperjelas makna atas tanda-tanda dalam kebudayaan.

Formula 1:

Konteks : Konteks adalah lingkungan sosial-budaya yang merupakan sumber referensi atau perbendaharaan ilham bagi sumber penggagas tanda untuk menuangkan gagasan lewat produk tanda-tanda yang ingin disampaikan. Tanda dibangun oleh agen komunikator atau sumber gagasan. Kebiasaan makna tanda yang bergantung pada konteks sosial-budaya bersifat denotatif, sehingga tidak membutuhkan analisis yang rumit.

Namun dalam perspektif konotatif makna tanda tidak lagi bergantung pada agen yang menciptakannya atau pada konteks sosial budayanya, namun makna tanda bergantung pada konteks zaman di mana tanda itu ditafsirkan.

Dalam hal ini tanda sudah melepaskan diri dari agen penciptanya sehingga maknanya berada pada wacana yang berkembang pada lingkungan fisik, waktu dan tempat  dimana tanda itu tengah ditafasirkan.  Oleh sebab itu, wawancara dengan agen pembuat tanda haram atau tidak relevan.

Formula ini jelas bahwa makna tidak bergantung pada pertimbangan norma dan nilai sosial, atau konteks sosial-budaya dan politik-ekonomi tetapi maknanya bergantung pada konteks zaman yang berkembang dan bergantung pada wacana publik yang berkembang.

Formula 2:

Non-Struktural : Tanda-tanda dapat ditafsirkan tidak didasarkan atas struktur tanda tersebut dalam hubungannya dengan tanda-tanda lain di dekatnya, meskipun tanda-tanda di dekatnya tersebut potensial berkaitan erat dengannya. Namun, tanda-tanda yang ditafsirkan harus diinterpretasi berdasarkan wacana yang berkembang.

Dengan cara itu, interpretasi terhadap tanda melepaskan diri dari struktur tanda dan penafsir melihat melalui kacamata wacana dan semangat zamannya.

Formula 3:

Fungsional : Semiologi komunikasi memberi makna pada tanda dengan cara melihat fungsi tanda  tersebut dalam kaitannya dengan gaya hidup masyarakat.

Penafsir tanda mempertimbangkan tanda dengan cara melihat fungsi tanda dalam masyarakat. Fungsi tersebut dapat bersifat sosial tetapi yang khusus fungsi tersebut bersifat privat.

Sebagai contoh ketika pohon-pohon besar diletakkan di jalan raya pada tahun 200an, dalam konteks wacana berkembang artinya resistensi dan penolakan terhadap Sidang Istimewa MPR tahun 2000.  Artinya, sebuah bentuk protes terhadap pelaksanaan Sidang Istimewa yang akan menjatuhkan presiden Gus Dur dari kursi Presiden RI. Perilaku peletakkan pohon-pohon besar secara fungsional bukan untuk menghalangi lalu-lintas tetapi maknanya menunjuk pada konteks wacana yang berkembang pada saat itu.

Formula 4 :

Intertextualitas  : Dalam memperkuat tafsir peneliti membutuhkan argumentasi lain yang memperkaya makna terhadap tanda tersebut dengan cara  memperbandingkan dengan tanda pada teks-teks lain yang sejenis.

Formula 5 :

Intersubyektif: Dalam menafsirkan tanda, dibutuhkan dukungan argumentasi dan tafsir tanda-tanda yang pernah dilakukan oleh para ahli lainnya. Dengan cara mengambil dukungan dari  penafsir lain tersebut tanda-tanda yang ditafsirkan akan lebih luas dan mendalam.

Formula 6 :

Common sense : penafsiran terhadap tanda dengan cara mengambil alih pemaknaan secara umum yang berkembang di masyarakat harus dilakukan secara kritis. Maksudnya, tafsir yang bersifat common-sense adalah pemaknaan yang bersifat sosial. Hal ini dapat menjebak pemaknaan ilmiah karena argumentasi common-sense dibangun berdasarkan kesepakatan kolektif atau konsesus sosial sehingga secara konvensional menjadi  milik masyarakat.

Pada hal tanda-tanda yang ada tidak mempunyai relevansi dengan konvensi masyarakat. Tanda-tanda itu bersifat konotatif sehingga peneliti harus membongkar makna yang sesungguhnya di balik tanda tersebut. Formula 6 bukan untuk memberi makna final, selain karena sifat makna yang denotatif, kecuali untuk perbandingan terhadap tanda-tanda konotatif yang akan ditafsirkan.

Formula 7 :

Self-judgment : Pada akhirnya tafsir final dirangkum oleh penafsir. Kebenaran makna atau kesalahan dalam memberi makna terhadap tanda sepenuhnya merupakan tanggung jawab intelektual penafsir.

Dalam diagram di atas sangat jelas, bahwa penafsir mempunyai pengalaman intelektual, keyakinan subyektif dan pengembaraan dan penjelajahan ilmiah terhadap tanda-tanda. Ini menyangkut kredibilitas dan otoritas keilmuan seseorang yang menggunakan akal sehat sebagai landasan berpikirnya.

[1]Persepsi proses dalam pikiran manusia yang menerima data dari lingkungannya. Persepsi merupakan gambaran yang belum lengkap dan masih membutuhkan lebih banyak pengalaman agar persepsi menjadi konsep.
[2]Konsep pikiran atau gambaran yang terbawa dalam pikiran manusia sebagai persepsi atas tanda-tanda. Setiap orang mempunyai konsepsi tentang tanda-tanda dalam kehidupan sosial. Konsep dalam pikiran itulah yang menuntun seseorang dapat mengerti dan memahami tanda.
[3]Konvensi, merupakan kebiasaan masyarakat dalam memaknai tanda. Konvensi adalah makna denotatif yang secara konstan berubah sesuai dengan aturan norma sosial yang berkembang dari proses dan lingkungan komunikasi.
[4]Pengalaman, memori yang melekat dalam pikiran manusia, selalu berubah ketika memperoleh pengalaman baru, sebagian yang lain berasal dari konvensi yang telah ada di masyarakat. Pengalaman ilmiah mampu mengungkapkan tanda-tanda yang bersifat misterius, karena ia menggunakan akal sehat dan metoda ilmiah.
Advertisements