Andrik Purwasito/Analisis Hubungan Internasional.

SEGERA TERBIT 2017 ANONIMUS

Paradigma Panggung Wayang

SURAKARTA 2017

International Relations Publishing, FISIP-UNS

ISBN : on process.

Dicetak di Yogyakarta Cetakan 1, 2017

KATA  PENGANTAR

Hubungan internasional (HI) tidak ubahnya pagelaran panggung wayang, yang mana setiap aktor, individu maupun kelompok, formal maupun informal selalu bercita-cita untuk bertahan hidup. Oleh sebab itu, setiap aktor berusaha menjadi tokoh yang penting dan dihormati agar cita-cita tersebut dapat diwujudkan. Untuk mencapai kepentingan tersebut, aktor menjalankan proses diplomasi, yakni seni berunding dan kerjasama di segala lapangan. Ibarat sebuah pertempuran, diplomasi membutuhkan perangkat pengetahuan, baik pendekatan, teori, analisis, yang dapat kita gunakan untuk menyelidiki, menganalisis, menjelaskan dan memprediksi suatu peristiwa, fenomena, gejala yang terjadi dalam hubungan internasional. Oleh sebab wilayah cakupan studi hubungan internasional yang sangat luas dan kompleks, sekarang beradea pada posisi monokultur. Paradigma besar, menengah dan kecil, yang telah ada sejak dari idealisme, realisme, positivisme, liberalisme, komunisme, konstruktivisme sampai post-modernisme, belum cukup menjembatani kekacauan konsep dan tumpang tindihnya teori HI dengan kenyataan yang ada.

Buku Anonimus  melihat hubungan internasional tak ubahnya seperti pagelaran wayang, berlakunya hukum wayang, yaitu hanya aktor yang didukung Anonimuslah yang menjadi pemenang.  Sistem internasional menjadi pincang karena dikendalikan oleh invisible power dengan kuasa global.  Dalam panggung hubungan internasional, sebagaimana dalam pagelaran panggung wayang, aktor, pelaku,  hanyalah memainkan the great scenario sang dalang Anonimus. Aktor-aktor, seperti dalam pagelaran wayang,  diciptakan untuk saling berhadap-hadapan satu dengan yang lain secara konfrontatif, sehingga (1) aktor yang kuat berhadapan dengan aktor yang lemah,” (2) aktor yang berada dipusaran terdalam berhadapan dengan aktor yang berada di luar pusaran, (3) aktor yang berada di pusat berhadapan dengan aktor yang ada di pinggiran, (4) aktor yang bersekutu berhadapan dengan aktor sekutu yang tercerai berai, (5) aktor yang aktif  berhadapan dengan aktor yang pasif, (6). Aktor yang bermain berhadapan dengan aktor yang teraleniasi, (7) aktor yang hegemonis berhadapan dengan aktor yang gagal dan krisis.

Buku ini juga menyebutkan bahwa manifestasi Anonimus adalah tokoh-tokoh yang telah terkooptasi oleh invisible power bisa jadi presiden, raja, tokoh-tokoh agama, aktivitis, dosen, pengusaha, mahasiswa, termasuk organisasi pemerintah, organisasi media massa, media on-line, organisasi non-pemerintah maupun organisasi internasional.   Secara mudah Karl Marx menyebut sebagai sekutu kapitalisme yang berhadapan dengan sekutu proletariatisme. Kalau melihat panggung internasional seperti itu, maka Dunia akan selalu ditandai dengan adanya struggle for class, Morgenthau menyebut sebagai struggle for power.

Dua pernyataan tersebut sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa sistem dan tatanan panggung internasional itu selalu berisi persoalan yang kompleks, hierarkhis dan hegemonis. Orang Prancis bilang, exploitation de l’homme par l’homme. Peradaban manusia terus menerus dalam kondisi terancam oleh eksploitasi yang kuat, kesalahpahaman, konflik dan peperangan. Perdamaian akhirnya hanya slogan kosong. Cita-cita luhur manusia untuk berbuat baik sengaja dikesampingkan oleh nafsu kejam dan serakah bernama Anonimus.

Di era informasi sekarang ini, setiap orang dapat menjadi sumber informasi. Dunia tidak bertambah menjadi baik, sebaliknya dunia mencapai tahap kebebasan yang mengerikan.  Kini lebih banyak orang yang mengabaikan norma dan nilai tradisional dan  mengabaikan hak-hak  kemanusiaan dari pada orang yang membangun kekeluargaan dan kesederajatan.  Lebih banyak lagi orang yang menjungkirbalikan fakta, mengobrak-abrik ideologi yang sudah mapan, mencabik-cabik sejarah, agama, etnik, serta meningkatkan konflik individualisme dan rasialisme.  Tak terhitung lagi orang yang menjadi konsumeris disbanding yang menjadi produktor.

Sederet persoalan itulah yang dicoba dibahas. Nantikan Anonimus segra ada di tangan anda.

Surakarta 21 Juni 2017

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s